Monday, August 15, 2005

Senyum

Melelahkan dan entah kenapa sangat membahagiakan. Terima kasih untuk hari ini. Dan semua rencana awal? Hanya berhasil di urusan kebaya, plus nuker dollar, bayar telpon, dan yang lain? Hm, there's still tomorrow, karena hari ini aku tengah menabung urusan hati hahaha..

Kebenaran (tidak ada) yang mutlak

Mengutip perkataan cupcakes, "Wahai pemimpin, bayarlah gaji pegawaimu sebelum keringatnya sempat mengering," katanya juga ini adalah suatu ciri kapitalis yang mulia. Kalau menurutku, baik kapitalis, humanis, ataupun komunis sekalipun, hanya ada dua pilihan. Yang pas-pas an dan yang berlebihan. Tergantung kita mau jadi yang mana. Karena tidak ada satu pun di dunia ini (menurutku) yang pantas berteriak (seakan) dirinya menyerukan kebenaran. Ah, dunia ini memang omong kosong dengan kebenaran mutlaknya. Mungkin itu sebabnya pemimpin negara membenci ilmu filsafat.

Happy Monday

Today's plan (not able to say it activities cause usually I am running out of time hahaha) :
1. Benerin lampu rem yang mati satu
2. Ganti oli
3. Servis ac
4. Facial
5. Nomat dong kita, biar kayak abg
6. Nyari puppy (tentatif?!)
7. Kasih cth ukuran kebaya ke seibu
8. Buat artikel 8800 tuk majalahnya Aji
9. Bersenang-senang (ini sangat tentatif)
Why? Cause it's my first holiday...haha... =)

Btw cupcakes..nitip femina downgs..=")
ah ha..yes you!!


Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com

Sunday, August 14, 2005

Puppy lover

Bicara tentang kesendirian, yang mengarah pada kontemplasi, dan juga sepi, aku rasa ini saatnya aku mempertimbangkan membeli anak anjing lagi. A little puppy will relief this strange feeling. How about shihtzu, golden or maybe rotweiller? hahaha nope, maybe chow2 will be nice..=) jadi, harus mulai mengencangkan ikat pinggang, bukan hanya tuk sekedar sunglasses inceranku yang kemaren budget berlarian malah untuk celana dan sepatu putih...you know why? Those cute lil' puppies are very goddamn expensive!! hahaha...

Kenapa ya, kenapa tidak?

Mengapa semua yang sederhana harus dibuat sulit? Pada saat kita menyayangi seseorang, kenapa harus ada kata "kenapa ya?" dan bukannya "kenapa tidak"? Apa salahnya mengalah karena kita belum tentu kalah. Dan apa pula artinya kalah bila salah lebih buruk lagi akibatnya. Satu hal yang kupelajari, kalah belum tentu salah, dan akhir-akhir ini pemerintahan memberi contoh yang luar biasa inovatif, salah belum tentu kalah. Itu semua hanya masalah kekuatan. Pada saat kau membuat salah, bagaimana kau bisa berkata, "kenapa tidak kau yang ke rumahku, kenapa harus aku yang ke rumahmu?". Pada saat kau jauhi aku, kau berkata "kenapa kau masih datang kesini, bukankah aku sudah menyakiti kamu?".


Image hosted by Photobucket.com

The City Lights and Me

Duh, kenapa susah sekali untuk mengerti. Cinta tidak pernah mengenal kata ego dan juga pamrih. Yang kusayangkan kalau kita bertengkar hanya satu, waktu yang terbuang dengan ketidakbersamaan kita. Dan bukan siapa yang harus datang pun tak datang, mengalah pun tak mengalah. Cinta, kurang berbicara apa di padamu? Ah, ini pun hanya kontemplasi perjalanan pulang dengan banyak kejemuan mengemudi di sepanjang arteri antasari-cirendeu. Have a good night sleep, all...it's saturday night!

Saturday, August 13, 2005

Kamus ala saya sendiri

Bicara tentang kesendirian, selalu identik dengan kesepian. Bisa jadi dalam kamus aku ingin menyarankan suatu bentuk frase yang biasa terdiri dari "kata X" mengikuti "kata Y". Dengan demikian banyak orang akan lebih mudah menemukan kata yang mereka cari untuk menggambarkan emosi yang melandan mereka. Contohnya seperti yang di bawah ini :
  • Kata 'gelap' diikuti dengan kata 'tak bisa melihat' ( kecuali orang tuna netra) diikuti kata 'takut' karena memang kita tidak pernah mengerti apa yang jauh dari indera dan juga nalar kita bukan? Mungkin kecuali untuk satu yang ciptakan kita.
  • Kata 'sendiri' diikuti kata 'sepi' karena kita makhluk sosial, tak bisa hidup tanpa orang lain. Walau terkadang buatku sendiri adalah waktu yang tepat tuk berkontemplasi, mengarungi sungai pikiran yang penuh dengan batu-batu sebagai aral rintangan bagi pikiran (yang lagi-lagi buatku) cukup sederhana.
  • Kata 'jatuh' diikuti kata 'bangun'. Hei kenapa pula harus ada bangun kalau keadaan sudah enak buat kita? Contoh jatuh dalam kekayaan, atau jatuh dalam kebahagiaan yang analoginya adalah jatuh dalam pelukan seseorang. Apakah jatuh selalu identik dengan negatif? Padahal menurutku lebih cocok kalau kata 'jatuh' identik dengan kata 'penyerahan', yang bisa jadi menyerah dan lelah berjuang terhadap keadaan, atau bahkan sukarela. Dengan jatuh kita menjadi orang yang pasrah dan nrimo (hidup orang jawa!) (hei..saya setengah menado, bung..) dan bangun bisa jadi tidak selalu posititif melainkan tidak pernah puas, kutu loncat, jadikan orang lain stepping stone dan lain-lain.

    Duh, bisa jadi bangun siang yang buat pikiranku kayak telur scramble gini..ayway, kata adalah netral, dia hanya tercipta di fikir dan tiap aksara yang berloncatan dari mulut ini selalu bersamaan dengan proses pembentukan frame di dalam fikir. Menyenangkan bukan, apapun yang kita proses dalam fikir ini, bebas dari intervensi siapapun. Thanks God sampai sekarang belum ada razia pikiran di jalan-jalan, walau kapolda kita baru hahaha...

Friday, August 12, 2005

Happy birthday, Dea!!

Hari ini harinya Deyra Supriadi aka Dea, seorang sahabat yang belum lama kukenal sebagai kejutan luar biasa dalam hubunganku dengan hujan renik. Dea ulang tahun hari ini, dan tidak ada yang bisa kulakukan lebih tulus dari mendoakannya. Mudah-mudahan kamu selalu panjang umur, sehat selalu, dan menyadari kapasitas dirimu untuk boleh berbahagia.

Image hosted by Photobucket.com

It's you, the real you with smile in your lips and eyes...mudah-mudahan begitu pula hari ini.

Kaca (hati dan bukan) mata

Pernah dengar penyakit kambuhan? Iya, betul penyakit kambuhan tuk penderita kambuhan, alias berkala dan berulang dengan siklus yang pasti (pun tak pasti). Nah, satu hal yang aku baru alami sendiri dan buktikan kebenarannya, aku benar-benar harus bertanya kepada petugas yang berwenang, betulkah aku lebih bodoh dari keledai (buridan)? Lagi-lagi aku kecewa dengan mata normalku. Ya, aku harap-harap cemas saat kembali dengan resep dokter di tanganku. Mengintip sejenak dan...hasilnya tetap sama. Mataku normal, tidak plus pun minus sedikit pun. Tapi entah mengapa aku sangat cemas...

Bagaimana aku nanti harus basa-basi dengan mereka yang tidak bisa lihat jauh, yang memilih deretan paling depan di pertunjukan opera, yang tidak bisa lagi membaca sambil tiduran dan mungkin cepat pusing bila baca buku dalam keadaan setengah gelap. Lalu belum lagi sopan santun pada orang tua yang bermata plus, fiuh..ehm, iya om..oh enggak saya keliatan kok jarak segitu..iyah..heem..*tengsin berat bo. Nanti, mungkin akhir minggu aku akan minta pengklasifikasian kelainan mata pada pihak yang berwenang. Agar masing-masing hidup di akuarium yang tepat, dengan komunitas yang tepat. Karena lagi-lagi aku kecewa, patah hati dan bahkan patah arang pada mereka yang menilai manusia dari agamanya.

Berapa ribu kali Isa Almasih perlu turun ke dunia dan berkata bahwa Ia tak beragama, tak bicara latin, tak menulis arab, dan perduli setan dengan semua ritual dan konservatifnya orang tua. Nanti pun kita membawa diri sendiri, pahala dan dosa sendiri, untuk keselamatan sendiri.


Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com


Nah mungkin kacamata baca seukuran ini paling pantas untuk orang-orang taat beragama penutup mata batin itu. Duh...!! Shame on you, guys....

Wednesday, July 27, 2005

My Summer

Hidup dengan lengkung senyum pun kegusaran yang dapat menular, itu semua adalah pilihan. Mungkin aku adalah orang yang paling cepat berpuas diri, tapi sungguh hidupku tak kekurangan apapun. Masalah datang dan pergi, aku selalu tahu dapat mengandalkan siapa dan apa.


Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com

HORMAT GRAK kepada pemenang hatiku =')
btw thanks cumy buat topinya hahaha...

Sunday, July 24, 2005

Buku kanak-kanak

Memori kadang bisa membunuh. Aku rindu sekali akan buku favoritku sewaktu kanak-kanak. Bundel hijau tua yang sudah lapuk itu tak pernah absen dari malam hariku, walau hanya beberapa bulan. Cover bukunya pekat dengan kesederhanaan, dan itu yang buatnya menarik di mataku, walau buku itu adalah satu di tengah puluhan buku lain yang ramai corak dan gegap gempita dalam kehidupan metropolitan.

Buku favoritku terlihat sesak, penuh dan memang penuh dengan ilmu. Hidup diserukannya sebagai sekolah tiada akhir, dimana setiap wadah kegiatan sampai masalah sekalipun adalah pendidikan, terutama untuk diri kita. Buku favoritku sering dilalaikan, kadang olehku, dan sering oleh orang lain. Buku, dia dizalimi dengan apa yang disebutnya pilihan bebas tapi mungkin bukan pilihan sadar bagi pelakunya.

Menjelang malam, ya dia temani aku tidur dengan cerita-cerita yang nyaris tak bisa kubilang manis. Ceritanya hampir semua berakhir pedih, tak bahagia, tapi mengisi fikir dan terutama batinku dengan masih indahnya hidupku, bersyukurnya aku, dan begitulah seyogyanya.
Aku tumbuh semakin besar. Tidak lagi dengan pola fikir yang sederhana, dan mungkin aku telah menjadi tiara yang tidak lagi dengan huruf kapital T di depannya. Aku disuguhi begitu banyak hal baru yang ada dalam buku-buku hadiah dari orang tuaku. Tapi sungguh, sampai sekarang aku ini insomnia karna buku favoritku, dengan sampul hijau dekil itu entah berada dimana.

Aku rindu, akan masa kanak-kanak,
hidup hanya hitam dan putih,
melangkah satu demi satu.

Tanpa memakan ratu setelah kuda kukorbankan,
perduli setan dengan catur, walau aku masih ingat,
kata-kata dalam buku favoritku...


"Meski belum hilang penat ini, tapi rindu tak bisa menunggu. Perjalanan panjang dalam sunyi, menyisa banyak cerita untuk ditulis. “Karena ada sedikit gangguan dalam memori jangka panjangku, tak bisa mengingat terlalu lama, atau terlalu banyak…”. Padahal tidak ingin aku kehilangan saat kau letakkan tanganmu di wajahku, lalu ada senyum, “seperti papan catur,” katamu. Kontras warna! "

Monday, July 18, 2005

Hectic dan Hujan Bulan Juni

Hari ini hectic banget. Dari jadwal buat design toko, ketemu kontraktor, ke salon, ngurusin ban kempes, buat tugas OD, beresin puisi buat temen yang mau nikah, janji ma ibu negara, ngurusin orang kumat gara2 gak dilarang berhubungan lagi. Ah, what a day. Seperti biasa jadi sensi, bawaan mau ngedumel mulu. Tapi kumpulan emosi tertumpah saat baca Hujan Bulan Juni. Penulis yang hebat, orang pertama yang tulisannya bisa buat mataku berkaca-kaca di tengah2 kuliah di Prasmul.

Monday, July 11, 2005

One step ahead

Just came back from Jogja. What a trip...sebenarnya perjalanan 50 menit kali dua untuk hitungan bolak balik itulah yang menyenangkan, entah kenapa dan mengapa. Aku disana survei distro untuk spot sambas nanti. Menarik dan sangat variatif, dari mailbox, slackers, pinker, whatever, and even hitam, toxic, dan killcat tuk display depan atau gratifiti..hahaha..tutup sih..katanya ada pameran tato di bandung. Tapi oke lah karena aku jadi bisa ada perbandingan, yah itung-itung mencari SWOT. Dan satu hal yang lebih bagus lagi, dapet link buat barang-barang band/distro lokal.

Cuma satu setengah hari di Jogja, suara masih minim dan batuk sepanjang jalan kenangan. Ah, benci banget, walau kontradiktif krn ternyata mood malahan meningkat drastis, diikuti dengan pemulihan kesehatan yang perlahan tapi pasti. Terlalu banyak hal yang ada di pikiran sekarang. Untuk sementara harus dibuat list yang terpenting sepertinya. Yaitu sub rosa project, selesain tugas-tugas kuliah (OD individu, role play etika, AM), design toko dan substansi. Yah, one by one..mudah-mudahan terlaksana dengan baik...